Bagian 1 #Telat!
Bruk!!
Bruk!!
Gadis itu terjatuh tepat di depan gerbang sekolah yang baru saja
ingin ditutup oleh pak Nur -Satpam Sekolah-. Dengan napas yang masih
terengah-engah karena berlari sepanjang 5 km, gadis itu menahan gerbang
yang mau ditutup oleh pak Nur dengan memegang erat gerbang tersebut.
"Hah.. hah.. pak, jangan ditutup dulu, dong! Saya kan belom masuk." Ujar gadis itu dengan memanyunkan bibirnya.
Pak Nur menghela napas malas. "Kamu itu telat mulu, Sheila! Mau
alasan apa lagi kali ini?" Tanya pak Nur saking enggak tahannya.
"Saya tadi dianterin sama Mama saya. Terus ban motornya pecah. Yaudah
motornya ditaro ke bengkel. Dan bapak tau gak jarak dari bengkel
kesini? 5 km pak! Bayangkan, saya lari demi upacara hari ini pak. Dan,
saya masuk!!!" Setelah membuat alasan yang cukup panjang, Sheila masuk
kedalam sekolah dengan berlari karena tak mau di tahan dan dihukum oleh
pak Nur.
Sampai di kelas, ia mengibaskan wajahnya yang mulai merah dengan buku
milik Bayu yang duduk di belakangnya. Karena berlari, pagi ini sudah
terasa panas sekali. Padahal, upacara bendera belom ia lakukan.
"Lo abis lari dari mana lagi, Sheil?" Tanya Bayu sambil menulis di buku tulisnya.
Sheila menoleh. "Gue lari dari bengkel depan kesini. Gila! Kurus deh gue nih."
Sheila memperhatikan Bayu yang sedang menulis. Tiba-tiba ia memukul
meja Bayu dengan sangat kencang. Hingga Bayu kaget dan mengeluarkan
latahannya.
"Hahahaha!! Latah, najis! Gitu aja latah. Cowok?"
Bayu menatap Sheila dengan tajam. "Sialan lo! Gue lagi deadline nih! Jangan ganggu gue."
Sheila mengambil buku tulis bersampul pink itu. Dan melihat dengan seksama apa isi tulisan tersebut.
"Wah, wah! Masih pagi udah buat yang enggak-enggak aja lu, Bay. Gue
bilangin bu Ningsih, ah!" Celetuk Sheila sambil beranjak dari tempat
duduknya. Namun, tangannya ditahan oleh Bayu yang mulai geram dengan
sikapnya itu.
"Balikin tuh, buku! Gue gak bagi jajanan ya nanti!" Ancam Bayu.
Sheila menoleh sambil memanyunkan bibirnya. "Ah, dia mah mainannya
ancaman. Gak seru!" Sheila langsung memberikan buku itu kepada Bayu.
Dengan senyuman sukses, Bayu langsung mengerjakan pr yang belum ia
kerjakan sebelum bel masuk berbunyi dan upacara.
Sheila duduk kembali di tempat duduknya. "Oh iya, Bay. Ada berita baru lagi gak? Yang teraktual ye!"
"Ada. Kali ini, sekolah mau ngadain pensi diakhir semester nanti.
Semua murid diwajibkan untuk ikut." Jawa Bayu yang masih sibuk menulis.
Sheila manggut-manggut memgerti. "Bulan apa ya?"
"Bulan Mei lah. Setelah UKK sama UN nanti." Jawab Bayu.
Sheila menoleh ke arah Bayu. "Eh Bay, mau kemana?" Tanya Sheila.
Bayu menoleh. "Mau balikin bukunya si Tiwi. Kenapa? Mau ikut?" Sheila menggeleng dengan cepat. Lalu, ia tiba-tiba berpikir tentang acara pensi yang diucapkan oleh Bayu.
"Sheil, lapangan yuk! Nunggu di bawah pohon."
~***~
Dibawah pohon, Bayu dan Sheila duduk di
dekat tanaman yang di bikin tembok kecil yang digunakan oleh para siswa
untuk duduk sambil menunggu. Kini, mereka berdua sedang bercanda ria
sambil tertawa terbahak-bahak.
Para murid berhamburan keluar kelas dan mulai membentuk barisan
posisi perkelas untuk upacara nanti. Begitu juga Bayu dan Sheila. Mereka
berdua langsung berjalan menuju barisan kelasnya yaitu kelas 11-3.
Biasanya, Sheila lebih memilih baris di barisan paling belakang.
Begitu juga dengan Bayu yang ingin selalu dekat dengan Sheila. Mereka
sahabatan dari SMP, dan memutuskan untuk SMA bareng. Entah ada angin
atau aura apa, para guru di sekolah mereka selalu menyatukan mereka
berdua dalam satu kelas yang sama.
Mereka berdua memiliki kesamaan yang cukup familiar sehingga mereka
mudah dikenal oleh guru. Bukan murid-murid di sekolah. Mereka tidak
begitu suka dengan hal yang mengenai kata 'Famous' karena itu terdengar terlalu mengganggu ditelinga mereka. Apalagi Sheila yang sangat membenci tetang hal itu.
Masa SMA adalah masa yang pas untuk para anak jaman sekarang
membebaskan diri dengan mencari jati diri mereka. Hampir semua teman di
kelas Sheila sudah berpacaran. Bahkan sahabatnya, Bayu, ia juga sudah
berpacaran dengan Shinta. Anak IPS yang terkenal sangat pendiem dan
selalu dicap sebagai nerd disekolahnya.
Tapi tidak dengan Sheila. Ia hanya suka melihat drama korea yang
romance dan kebanyakan tentang percintaan. Sheila bukanlah orang yang
gampang suka dengan seseorang. Bahkan selama 17 tahun ini, ia tidak
pernah pacaran sama seseorang.
"Suka aja enggak gue sama dia, Bay Bay." ujar Sheila sambil menggeleng tak percaya.
Bayu yang ada disebelahnya tertawa melihat jawaban dari sahabatnya
itu. "Lo harus bisa suka sama seseorang lah, Sheil. Masa iya lo mau
jomblo seumur hidup? Ya kali."
Sheila memakai topi abu-abunya. "Ya enggak lah, Bay. Suatu hari nanti
juga gue pasti bakalan nemuin siapa yang udah buat gue jatuh cinta.
Kalo sekarang, kayaknya gak kepikiran deh, Bay." Ujar Sheila sambil
memperhatikan pasukan upacara yang sudah mulai bertugas.
"Oh iya, lo tampil enggak pas pensi nanti? Itu.. ekskul teater lo."
Sheila mengangkat kedua pundaknya, "Gatau. Ka Larasnya lagi kurang
fit. Lagian, kalo misalnya ekskul teater tampil kayaknya enggak bagus
untuk dipertontonkan,"
"Why?"
"Enggak ada yang jadi panutan. Lo tau lah, ekskul teater itu butuh
dana banyak. Sekolah kita keren ngadain ekskul teater. Tapi apa?
Ngebiayainnya juga empot-empotan,"
"Ilah. Lebay lo, ah! Kzl gue,"
Sheila tertawa
melihat Bayu yang seperti itu. Upacara pun dimulai, semua murid mulai
merapihkan barisan, hingga pemandu upacara memulai upacaranya.
Komentar
Posting Komentar